Menberi Tanpa Pamrih

Salah satu pesona Rasulallah dan para sahabat yang banyak menyedot simpatik banyak masyarakat adalah sifat memberi tanpa pamrih. Tak ada yang menggerakan kebiasaan memberi terhadap sesama kecuali karena allah. Maka apapun reaksi orang yang mendapat pemberiannya, tidak menjadi masalah. Karena mereka bukan mengharapkan imbalan dari manusia atau si penerima, melainkan hanya terhadap Allah – yang imbalan-nya sungguh tak terperikan.

Seperti nabi, pemberian seorang mukmin terhadap sesamanya juga seyogianya didasarkan atas ketakwaan dan bukan kerena ada kepentingan tertentu. Misalnya, karena si fulan ada kroninya ataw simpatisannya, maka ia lebih berhak menerima pemberian. Bukan! Bukan member sesuatu kepada orang yang tidak pernah memberi pada kita dinilai sebagai akhlak yang paling utama. Dan Uqbah bin amir al-jahnyra, iaa bertutur, “Rasulullah berkata kepadaku, ‘wahai Uqbah, maukah kamu akhlak yang paling utama bagi penghuni dunia dan akhirat? [yaitu] engkau menyambung (silahturahmi) dengan orang yang memutuskanmu, member kepada orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang menzalimimu’.” (HR Hakim).

Jadi bantuan seorang muslim bagi sesamanya tidak saja berisi pengorbanan dan perjuangan karena telah menyingkirkan supermasi egonya, tapi juga sepi dari target-target tertentu. Biasanya, pemberian yang seperti itu lah yang bisa langgeng dan si penerimanya pun akan menerimaanya dengan lapang dadacsehingga do’a dan pujian untuk si pemberi pun akan terluncur dengan sendirinya, tulus, dan tanpa harus diminta.

Sayang, pemberian model nabi dan para sahabat kini nyaris punah dari sekeliling kita sehingga jasa baik terhadap orang lain dianggapnya sebagai pemberian hutang yang harus dibayar dan segalanya serba dikomersialkan. Yang lebih menyedihkan lagi, pemberian seperti itu yang mewarnai sistem kehidupan kita sehingga begitu target dan ambisinya sudah terpenuhi, maka pemberian bagi sesama pun tidak lagi dilakukan.

Bila demikian yang terjadi, rupanya kita ini jauh sekali dengan prilakunya Abu Bakar. Sebelum menjadi khalifah, dia suka membantu memerah memeah susu dikampung yang banyak ditinggal pergi kaum laki-lakinya. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, salah satu wanita dari kampung tersebut berkata “kini ia tidak akan memeah susu lagi.” Ketika ucapan itu sampai ke telinga Abu Bakar, ia pun berkata, “tidak! Saya berharap, apa yang saya alami kint tidak membuatku berubah dari apa yang telah aku lakukan.”

Post a Comment

0 Comments